Rilis Pers

[Pernyataan Terbuka 17/04/2021] Tim BPOM, Majulah Terus

Ratusan tokoh dan ahli Indonesia mendukung Badan Pengawas Obat dan Makanan RI dalam kontroversi vaksin Nusantara. Pernyataan disampaikan secara daring di Jakarta, Sabtu 17 April 2021.

Pernyataan Terbuka
“Tim BPOM, Majulah Terus!”

Setiap penelitian vaksin perlu diputuskan oleh lembaga yang memiliki otoritas. Kita punya Badan Pengawasan Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI). Kami, yang nama-namanya tercantum di bawah ini, bersikap berpegang pada pendirian BPOM yang merupakan badan resmi di Indonesia dan bekerja berdasarkan prosedur-prosedur, disiplin, dan integritas ilmiah.

Biarkan BPOM bekerja tenang bersama tim pakarnya. Kami percaya pada integritas keilmuan dan independensi mereka. Selama ini, BPOM telah mengabdi untuk menjaga kesehatan masyarakat di Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Mereka yang bekerja di BPOM telah membuktikan diri sebagai patriot tanpa banyak retorika, teguh menghadapi tekanan dari mana saja.

Kami, warga Republik, berdiri bersama mereka.

Setiap penelitian dan pengembangan vaksin dan obat, kami hargai sebagai ikhtiar membuka kemungkinan baru melawan pandemi. Tentu dengan tetap mengindahkan asas-asas ilmiah.

Mari kita ingat bahwa hidup mati jutaan rakyat adalah taruhannya.

Jakarta, 17 April 2021

Kami, warga Republik

  1. A. Mustofa Bisri
  2. Abdillah Toha
  3. Ade Armando
  4. Adi R. Adiwoso
  5. Ahmad Syafi’i Maarif
  6. Ainun Najib
  7. Akmal Taher
  8. Alissa Wahid
  9. Amin S. Zarkasi
  10. Amir Sidharta
  11. Anak Agung Gede Ariawan
  12. Ananda Sukarlan
  13. Andreas Ambesa
  14. Andreas Harsono
  15. Andy Budiman
  16. Anita Wahid
  17. Anton Rahardjo
  18. Arief Anshory Yusuf
  19. Arief T. Surowidjojo
  20. Asvi Warman Adam
  21. Atika Makarim
  22. Atip Latipulhayat
  23. Avianti Armand
  24. Azyumardi Azra
  25. Beben Benyamin
  26. Betti Alisjahbana
  27. Boediono
  28. Budi Haryanto
  29. Budiati Prasetiamartati
  30. Butet Kertaradjasa
  31. Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI)
  32. Christine Hakim
  33. Dicky Budiman
  34. Dicky Pelupessy
  35. Djoko Susilo
  36. Emil Salim
  37. Erry Riyana Hardjapamekas
  38. Goenawan Mohamad
  39. Halik Malik
  40. Harkristuti Harkrisnowo
  41. Henny Supolo Sitepu
  42. Henry Surendra
  43. Herawati Supolo Sudoyo
  44. Herlambang P. Wiratraman
  45. Imam B. Prasodjo
  46. Indang Trihandini Harun
  47. Indrawati Hadi
  48. Ines Irene Atmosukarto
  49. Iqbal Elyazar
  50. Irma Hidayana
  51. Irma Makarim
  52. Ismid Hadad
  53. Isnani Suryono Salim
  54. Jajang C. Noer
  55. Jatna Supriatna
  56. Jilal Mardhani
  57. Johan S. Masjhur
  58. Joko Anwar
  59. KawalCovid19.id
  60. Kemal Azis Stamboel
  61. Komaruddin Hidayat
  62. Kresna Astraatmadja
  63. Kuntoro Mangkusubroto
  64. Lelyana Santosa
  65. Lenny Ekawati
  66. Lies Marcoes
  67. Lukiarti Rukmini
  68. Lukman Hakim Saifuddin
  69. M. Jamiluddin Ritonga
  70. Manik Marganamahendra
  71. Manneke Budiman
  72. Mardiana Oemar
  73. Maria Hartiningsih
  74. Maryona Rachmat
  75. Mayling Oey
  76. Metta Dharmasaputra
  77. Meuthia Ganie-Rochman
  78. Mochtar Pabottingi
  79. Muhammad Zaidy
  80. Multamia Lauder
  81. Nachrowi D. Nachrowi
  82. Natalia Soebagjo
  83. Nida P.H. Nasution
  84. Nina Mutmainah
  85. Nirwan Dewanto
  86. Nuning W. Wiradijaya
  87. Olga Lydia
  88. Omi K. Nurcholish Madjid
  89. Pandu Riono
  90. Pratiwi Sudarmono
  91. Purwantyastuti
  92. R. Hario Soeprobo
  93. R. Woodrow Matindas
  94. Rachmat Irwansjah
  95. Ratna Djuwita
  96. Ratna Sitompul
  97. Riris K. Toha Sarumpaet
  98. Rochmat Wahab
  99. Rusmin Tumanggor
  100. Sandra Hamid
  101. Saparinah Sadli
  102. Sari Koeswoyo
  103. Sarwono Kusumaatmadja
  104. Shanti L. Poesposoetjipto
  105. Sidrotun Naim
  106. Sigit Pramono
  107. Siti Annisa Nuhonni
  108. Siti Masmuah
  109. Sjamsiah Achmad
  110. Suryono S.I. Santoso
  111. Susi Dwi Harijanti
  112. Suwarno Wisetrotomo
  113. Syakieb Sungkar
  114. Tini Hadad
  115. Tirta Mandira Hudi
  116. Tunggal Pawestri
  117. Ulil Abshar Abdalla
  118. Unggul Budi Husodo
  119. Usman Hamid
  120. Wien Kusharyanto
  121. Wimpie Pangkahila
  122. Windhu Purnomo
  123. Zainal Arifin Mochtar
  124. Zumrotin K. Susilo

Narahubung: Alif Iman Nurlambang (081299078234)

[Launching 28/10/2020] Gerakan Sejuta Tes Antigen untuk Indonesia: Menuju Pandemi Terkendali

Pemerintah Indonesia masih jauh dari batas ideal dalam hal melakukan tes Covid-19. Jika merujuk angka idealnya Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yakni 1 per 1.000 orang tiap pekan,itu  berarti untuk Indonesia harus bisa melakukan tes sebanyak 267 ribu per pekan. Sehingga, Indonesia harus mencapai sebanyak 38.143 tes per hari.

Sementara rata-rata tes harian yang baru bisa dilakukan sebanyak 26.956 orang atau setara dengan 70,76 persen dari jumlah tes minimal. Saat ini, Indonesia baru melakukan tes terhadap sekitar dua juta orang dari total sekitar 270 juta penduduk. Rasio tes Indonesia baru 12.000/1 juta populasi, masih tertinggal jauh dengan negara-negara berkembang lain, katakanlah Filipina dengan rasio tes: 35.000 tes/1 juta populasi dan Kuwait dengan rasio tes: 176.000 tes/1 juta populasi.

Hal ini kemudian menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan jumlah tes terendah di dunia. Pada akhir September lalu, Indonesia berada di peringkat 157 dari 215 negara.

Untuk mengejar ketertinggalan itu, tak ada cara lain selain melakukan pengetesan sebanyak-banyaknya. Dari situ, tantangan yang muncul kemudian adalah keterjangkauan masyarakat terhadap alat tesnya. Harga yang murah dan tentu saja alat tes yang akurat.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah merekomendasikan penggunaan tes antigen sebagai salah satu metode skrining Covid-19. Tes Antigen memiliki tingkat akurasi 80 persen lebih. berbeda dengan Antibodi yang hanya 30 persen saja. Rekomendasi itu kemudian disusul oleh inisiasi WHO dan mitra-mitranya, seperti Bill & Melinda Gates Foundation untuk menyumbangkan 120 juta tes antigen dengan harga satuan hanya sekitar 5 dolar atau Rp. 75.000 kepada negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.

Penggunaan tes antigen memungkinkan untuk memperluas pengujian, terutama di negara-negara yang terbatas dalam fasilitas laboratorium atau petugas kesehatan terlatih untuk tes molekuler atau PCR.

Inisiatif itulah yang diadopsi oleh Gerakan Indonesia Kita (GITA) untuk ikut mengupayakan tersedianya alat tes yang terjangkau. Apalagi masyarakat Indonesia memiliki modal sosial yang tinggi, sejak lama sudah mengenal gotong-royong. Hanya dengan modal itu, di basis masyarakat, pandemi bisa dilawan.

Bersama dengan para inisiator dari beragam latar belakang, GITA menginisiasi sebuah Gerakan Solidaritas Sejuta Antigen untuk Indonesia. Gerakan solidaritas untuk mendukung terselenggaranya uji cepat massal menggunakan tes swab antigen. Inisiasi ini juga tentunya menjawab kebutuhan atas kecepatan pemenuhan rasio tes yang direkomendasikan oleh WHO.

Bentuk gerakan solidaritas dan Inisiatif ini secara khusus berupa urunan dana untuk membiayai pembelian alat swab tes antigen. Hasil dari pembelian itu kemudian akan dimanfaatkan dan disalurkan secara gratis. Dengan biaya USD 7,5 per tes atau sekitar 120 ribu rupiah.

Dengan gerakan ini, GITA dan para mitra, berkeinginan membantu pemerintah dalam memetakan penyebaran, khususnya untuk benar-benar mewujudnya 3T (test, trace, treat). Karena hanya dengan itu, pemerintah Indonesia dapat mengambil langkah strategis bagi kesehatan masyarakat.***

Dikelola oleh: