Swab Tes Antigen: Menapis Orang yang Paling Berisiko Menularkan

Menghadapi pandemi, satu hal yang sering disoroti adalah kemampuan pengetesan, karena dengan begitu, negara-negara bisa mengejar gap yang terjadi, yakni jumlah nyata orang yang terkonfirmasi Covid-19 dari hari ke hari dan kapan puncak wabah benar-benar terjadi. Kemampuan pengetesan dengan cepat dan tepat itulah yang diperlukan dari pemerintah.

Saat ini tes untuk Covid-19 terbagi dalam dua kategori. Pertama adalah tes diagnostik atau tes yang mendeteksi bagian dari virus Sars-Cov-2. Katergori yang pertama terbagi dalam dua metode, yakni tes PCR (Polymerase Chain Reaction), yang langsung mendeteksi RNA virus, dan swab antigen yang mendeteksi bagian protein di permukaan virus. Kategori kedua adalah tes yang mendeteksi molekul yang diproduksi ketika orang terinfeksi, seperti tes antibodi.

Tes antibodi mengambil sampel darah untuk memeriksa antibodi. Tapi antibodi membutuhkan waktu beberapa hari setelah infeksi untuk berkembang dan sering tinggal di dalam darah selama berminggu-minggu setelah pemulihan. Itu sebab tes antibodi terbatas dalam hal diagnosis. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tidak merekomendasikan penggunaan tes antibodi untuk perawatan pasien, tetapi mendorong penggunaannya dalam surveilans dan penelitian epidemiologi.

Yang paling diandalkan dari ketiga model pengetesan di atas tentu PCR, akurasinya mencapai seratus persen. Tetapi tes semacam itu umumnya membutuhkan tenaga kesehatan yang terlatih, reagen khusus, dan mesin yang mahal, pengujian dilakukan di laboratorium, ditambah lagi membutuhkan waktu berjam-jam bahkan sampai berhari-hari untuk menunggu hasilnya. Karena itu pula harga tes ini cenderung mahal.

Kalau dengan tes antigen, ialah yang paling mendekati akurasi PCR. Memeriksa protein di permukaan virus, dan dapat mengidentifikasi orang yang berada di puncak infeksi, ketika tingkat virus dalam tubuh cenderung tinggi atau banyak. Akan tetapi, di situlah kelemahan tes antigen karena tidak sepeka versi PCR, yang dapat mendeteksi virus Sars-Cov-2 meski jumlahnya sedikit.

WHO sejak september merekomendasikan pemakaian antigen dan tengah mendistribusi bantuan 120 juta alat tes antigen untuk negara berpendapatan rendah dan menengah, bersama para mitranya. Kerjasama ini mensubsidi harga antigen mencapai 74 ribu rupiah per unit. Awal oktober, pemerintah Indonesia sudah mengkomunikasikan bantuan ini kepada WHO agar menjadi salah satu negara yang menjadi prioritasnya.

Para pakar kesehatan di Indonesia pun merespon agar pemerintah agresif dalam menyediakan alat tes antigen. Wakil Direktur Pendidikan dan Penelitian RS Universitas Sebelas Maret Surakarta, Dr. Tonang Dwi Aryanto kepada BBC Indonesia mengatakan bahwa pemerintah seharusnya bisa membeli alat tes antigen, meskipun itu secara mandiri.

Sebenarnya di negara-negara lain sudah menggunakan alat tes antigen untuk melakukan penapisan, seperti India, mereka adalah negara pertama yang mulai menggunakan tes antigen, pada bulan Juni. Hasilnya dalam satu bulan ke depan, mereka berhasil menekan laju kasus terkonfirmasi dan jumlah kematian. Bisa jadi, ini menunjukkan kalau tes tersebut berperan dalam mengendalikan penyebaran virus. Pada 21 Agustus, India telah melakukan lebih dari satu juta tes virus korona dalam satu hari. Peningkatan pengujian itu dibarengi dengan penggunaan tes antigen.

Negara lain juga mempertimbangkan penggunaan tes antigen, utamanya untuk mengejar peningkatan testing yang lebih akurat. Pada Juli, Perhimpunan Mikrobiologi dan Penyakit Menular Filipina mengeluarkan pedoman sementara untuk dokter dan petugas kesehatannya, bahwa tes antigen dapat digunakan sebagai alternatif pengganti PCR untuk mendiagnosis infeksi virus di minggu pertama pada orang yang bergejala.

Menyeberang ke Eropa, Menteri Kesehatan Italia, Roberto Speranza telah mengumumkan rencana penggunaan tes antigen untuk menyaring penumpang di semua Bandara. Sementara itu, sekelompok ahli mendesak pemerintah Italia menggunakan tes tersebut untuk sekolah dan universitas.

Pada 18 November, Komisi Eropa menerbitkan laporan yang merekomendasikan alat tes antigen dipakai sebagai alat diagnosis untuk infeksi Sars-Cov-2.

Lalu bagaimana dengan akurasinya? Tes antigen dikabarkan memiliki tingkat negatif palsu mencapai 50 persen, akan tetapi antigen hampir pasti tidak terjadi positif palsu. Artinya, jika orang di tes hasilnya positif, maka ia benar-benar positif terinfkesi virus Sars-Cov-2. Di beberapa negara, antigen tidak dipakai sebagai tes tunggal. Namun hal itu berlaku tergantung dari sensitivitas alat tesnya. WHO merekomendasikan sensitivitas alat tes paling kurang 80 persen. Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika (FDA) pun mengingatkan untuk tetap memperhatikan akurasi serta menghimbau pemakaian alat tes berbasis antigen hanya untuk orang yang memiliki gejala selama 12 hari atau kurang.

Sampel uji swab antigen diambul dengan menggunakan teknik usap hidung atau tenggorokan, kemudian ditempatkan ke dalam tabung dengan bahan kimia khusus (reagen) untuk memisahkan bagian protein virus Sars-Cov-2. Sampel lalu dimasukkan ke dalam kaset yang ditempatkan ke perangkat pengujian untuk mendapatkan hasilnya.

Tes antigen memberikan hasil kurang dari setengah jam, dan tidak harus diproses di laboratorium. Jika tes PCR bisa mendeteksi satu molekul RNA virus, tes antigen memerlukan sampel yang mengandung ribuan bahkan puluhan ribu partikel virus agar bisa mengeluarkan hasil positif. Itu mengapa tes antigen rentan untuk hasil negatif palsu, karena bergantung pada puncak infeksi, dimana jumlah virus sedang tinggi. Selain itu teknik pengambilan sampel juga perlu diperhatikan.

Jumlah partikel virus atau viral load yang memuncak di awal infeksi, secara bertahap akan menurun, dengan sejumlah kecil RNA virus tetap berada di hidung atau tenggorokan seseorang selama berminggu-minggu atau mungkin berbulan-bulan. Akan tetapi pada saat itu kemampuan virus untuk menginfeksi ke tubuh manusia kecil sekali karena kemampuan menginfeksinya bergantung pada jumlah virusnya.

Seorang ahli imunitas Amerika Serikat dari University of Massachusetts Dartmouth, Erin Bromage, memperkirakan virus Sars-Cov-2 harus mencapai seribu partikel untuk bisa menginfeksi. Namun ia mengatakan kalau hal itu masih perlu eksperimen lanjutan, karena akan muncul pertanyaan lagi, misalnya, ada berapa banyak kandungan virus dalam sekali bersin atau sekali sentuhan atau sekali usapan hidung dan apakah memang diperlukan seribu partikel virus untuk bisa menginfeksi?

Dalam laporan di jurnal Nature, dituliskan: meskipun tidak cukup banyak data untuk mengklaim apakah jumlah virus berbeda dengan tingkat penularan, namun ada bukti bahwa individu tidak mungkin menyebarkan virus sekitar delapan hingga sepuluh hari setelah menunjukkan gejala terinfeksi.

Dengan sifat virus Sars-Cov-2 seperti itu, maka yang perlu diperhatikan adalah pengujian di awal infeksi, oleh karena itu penggunaan antigen, misalnya untuk penapisan akan lebih signifikan. Dengan positif palsu yang sangat jarang terjadi, tes antigen baik untuk menapis orang yang paling berisiko menularkan virus. Ini akan sangat membantu karena beberapa orang yang menerima hasil positif dari tes PCR ternyata tidak lagi dapat menyebarkan virus ke orang lain. Sedangkan, munculnya negatif palsu dikarenakan jumlah virus dalam tubuh sedikit, beberapa ahli menyarankan untuk melakukan pengetesan ulang.

Meski begitu seberapa baik tes bekerja tergantung pada beberapa faktor, seperti waktu mulai sakit atau awal munculnya gejala terinfeksi, konsentrasi atau jumlah spesimen yang dikumpulkan dari seseorang; dan bagaimana diproses, formulasi yang tepat dari reagen pada alat tes.

Published by Arief Bobhil Paliling

amateur

Leave a Reply

%d bloggers like this: