Lola Amaria: Tes Swab Antigen Itu Penting

Hampir sedikit sekali bidang usaha yang tak tergerus akibat pandemi. Salah satu bidang yang harus bersusah payah bertahan di masa pandemi Covid-19 adalah industri film. Apalagi di awal penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang pertama, segala aktivitas produksi disetop, ditambah bioskop tutup. Kondisi seperti itu berjalan sampai bulan Juni, ketika PSBB mulai diperlonggar atau dalam masa tranisi – PSBB tansisi.

Masa transisi menjadi kesempatan bagi para sineas untuk beradaptasi dengan pandemi. Terutama bagi yang di Jakarta. Karena kondisi yang penuh sesak, banyak rumah produksi memilih keluar Ibukota untuk melakukan syuting. Di sana dirasa lebih aman, selain juga banyak spot yang jauh dari keramaian penduduk.

Kegiatan produksi berhenti lagi ketika PSBB kembali diperketat. Syuting berhenti lagi. Mau tidak mau karena surat edarannya begitu. Semuanya setop. Produksi bergulir ketika PSBB diperlonggar lagi. “Kalau saya mungkin memang menunggu situasi,” kata Lola Amaria, seorang aktris sekaligus juga sutradara dan produser film, yang sudah hampir delapan bulan menunda proses produksinya terutama untuk syuting.

Lola Amaria sendiri, melalui rumah produksinya: Lola Amaria Productions, baru memulai proses syuting di pertengahan November. Ia berkejaran dengan jadwal tayang di tanggal 1 Desember, karena serial yang sedang mereka kerjakan: Calon Pengantin, dibikin untuk memperingati hari AIDS sedunia.

Sebelum melakukan proses syuting yang akan berjalan selama empat hari itu, Lola Amaria mewajibkan semua kru dan pemainnya dites Covid-19. Ia cukup hati-hati untuk memilih alat tes. “Kalau saya gak mau gambling gitu, artinya kalau bisa swab ya swab lah.” Ia sadar bahwa pekerjaan ini tergolong rawan, bersentuhan ataupun berdekatan adalah niscaya. Oleh karena itu, alat tes akurat menjadi penting bagi Lola supaya aktor dan aktrisnya juga merasa aman. “Kitakan enggak tahu yah, kalau kita meeting produksi bisa berkali-kali, kita enggak tahu mereka [habis bertemu] siapa aja, ke mana aja, kalau sudah dites kan merasa sama-sama aman gitu.”

Selain akurasi, tes cepat dan harga yang murah juga menjadi pertimbangan. Saat ini ada dua alat tes cepat: satu, yang mengambil sampel darah atau antibodi; dua, yang mengambil sampel dari saluran pernapasan atau antigen.

Jika merujuk Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pertengahan September lalu ia sudah mengijinkan dan merekomendasikan pemakaian antigen sebagai alat pengetesan dan dinilai lebih baik. Para pakar kesehatan di Indonesia – dari Erlina Burhan sampai Pandu Riono – juga merekomendasikan untuk memakai antigen, utamanya jika melakukan pendeteksian awal.

Di Indonesia beberapa publik figur, pakar kesehatan, seniman, dan para profesional lain di bidangnya menginisiasi sebuah gerakan sejuta tes antigen, namanya Gerakan Sejuta Tes Antigen untuk Indonesia. Lola sendiri juga menjadi salah satu inisiator.

Gerakan ini menghimpun donasi untuk menyediakan alat tes antigen yang murah bagi masyarakat. Melalui gerakan, alat tes antigen per kit harganya ditekan menjadi 110 ribu rupiah.

Dari situ Lola pun memilih berdonasi ke gerakan sebanyak 100 tes kit antigen yang diperuntukkan kepada kru dan pemain.

Sekitar 60 orang kru dan pemain dari Lola Amaria Productions akan mengikuti pemeriksaan swab tes antigen, sebelum melakukan syuting di Rusun KS Tubun, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Sebagai produser, Lola wajib untuk menjaga keamanan tim. Ia juga tak luput mengingatkan setiap kru dan pemain untuk membawa botol minum sendiri, masker diganti maksimal tiap empat jam sekali, handsanitizer harus ada, dan petugas kesehatan harus siap sedia dilokasi syuting.

Untuk syuting beberapa minggu lalu, memang Lola sudah menyewa tenaga medis langganan yang bisa mengeluarkan surat keterangan hasil tes. Sebentar saja untuk Lola mengunggu semua hasil tes para kru dan pemain, “kemarin sih gak sampai 10 menit, jadi langsung keluar tuh garisnya, jadi emang cepet.”

Hasilnya, semua negatif.

Begitu proses untuk film yang pertama selesai, Lola Amaria Productions akan bergegas lagi untuk film yang kedua. Jadwal syuting tanggal 20 November dan tes swab antigen mereka lakukan lagi sehari sebelum syuting. “Jadi saya juga merasa ini penting bahwa kalau untuk mengumpulan orang lebih dari lima, harus ada [tes] swabnya.”

Published by Arief Bobhil Paliling

amateur

Leave a Reply

%d bloggers like this: